Wednesday, November 27, 2019
Sunday, January 28, 2018
Bhisma Dwijatama - 2018
A grand diplomacy through the beauty of Indonesian dances & music. A tribute to our beloved Bapak Sampurno,SH. We present Nusantara Dance Performance and the Javanese Musical Drama. Featuring maestros and well known dancers and musicians.
Labels:
DANCE,
FAMILY,
Javanese Opera,
MANGKUNEGARAN,
Nusantara Dance Performance,
Pasukan T Ronggolawe,
Sarasmani Sampurno,
TAMAN MINI INDONESIA INDAH
Location:
Jakarta, Indonesia
Monday, May 4, 2015
My Daughter Inez Raharjo - from 2010 to last update
https://www.ucsf.edu/news/2018/03/410101/talk-safer-stents-wins-2018-ucsf-grad-slam
Inez, who studies under professor of radiology Srikantan Nagarajan, PhD, has uncovered something previously unknown: that when people hear themselves speak they subconsciously and actively correct the sound of their vowels. “This is a small, but sure step toward an integrated understanding of how the brain controls speech in general. And hopefully in the future we can help everybody with speech impediments, including those who stutter, to produce beautiful, intelligible speech,” she said. An integral part of the Grad Slam experience is the enthusiasm of an audience of peers, who hold up encouraging signs and banners between the talks. “I could feel that the audience was engaged and could understand what I was saying, and I really appreciated that,” said Inez.
From LIBERTAS CONCERT - ANANDA SUKARLAN
Puisi: Hasan Aspahani; Komposisi Musik: Ananda Sukarlan; Piano: Ananda Sukarlan; Sopran: Aning Katamsi; Flute: Elizabeth Ashford; Violin: Inez Raharjo; Kreografer: Chendra Panatan
Penari: Susi Mariah; Siko Setyanto; Hillarian Ananda; Achmad Hilmi, Ayok
Minggu, 3 Januari 2010
Graha Bhakti Budaya - Taman Ismail Marzuki
Batik by www.allurebatik.com
Bibirku Bersujud di Bibirmu adalah musik tari yang didasari oleh puisi Hasan Aspahani. Tak seperti judulnya, puisi ini jauh dari sensual. Puisi ini berkisah tentang cinta dan kehancuran yang diilhami oleh tsunami Aceh 2004, ketika lautan yang membentuk tsunami jatuh menyentuh tanah dan akhirnya meluluhlantakkan bibir pantai utara Sumatera. Bibirku bersujud di Bibirmu ditampilkan pertama kalinya pada JAKARTA NEW YEAR'S CONCERT 2010 sebagai world premiere.
Hasan Aspahani - Bibirku Bersujud di Bibirmu
Wahai, pelayar malam, tiga kapal karam, masam dendam
apa lagi yang kau pendam, sebelum semuanya tenggelam?
Kita pun kehilangan ombak, pasir dan berabad rakaat,
terlelap dalam perangkap, sekejap malam yang cacat.
Tanpa sujud, bagaimana menyebut ini sebuah tahajud.
Aduhai laut yang mengenal semua kapal, kau tahukah?
Pada separuh luruh usia tubuh, ada sepertiga subuh
yang tak pernah hendak menunggu jangkarmu berlabuh.
Dan pada lipatan pantai sajadah yang tak lagi basah
Tajam musimmu makin meranjau: aku kian kemarau
Aku masih sabar menunggu, kau kirim tanda zikir-zikir,
Semakin mendekat gemetar bibir, pada persujudan pasir,
rukuk musafir, sampai mengerti isyarat ombak terakhir.
Kau bertanya: hauskah?
- Aku jawab: ya, beri aku air
Kau bertanya: haruskah?
- Aku minta: atau sebaiknya kau usir
Siapa yang menangis di dermaga? Siapa menghangatkan
laut dengan airmata? Siapa yang melambai di atas palka?
Siapa yang menghentak kaki berlari ke surut samudera?
Siapa mengarak riak jadi mahagelombang maharaksasa?
Aku semakin tak sanggup. Dengar. Dendang itu semakin sayup:
kenapa harus gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
kenapa harus gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
kenapa harus gelombang.
Bibirku bersujud di bibirmu, lalu kita lafazkan zikir pasir.
Bibirku bersujud di bibirmu, hampar mulut yang pesisir.
Bibirku bersujud di bibirmu, pagut sebutir pungut sebutir.
read more "My Daughter Inez Raharjo - from 2010 to last update"
Inez, who studies under professor of radiology Srikantan Nagarajan, PhD, has uncovered something previously unknown: that when people hear themselves speak they subconsciously and actively correct the sound of their vowels. “This is a small, but sure step toward an integrated understanding of how the brain controls speech in general. And hopefully in the future we can help everybody with speech impediments, including those who stutter, to produce beautiful, intelligible speech,” she said. An integral part of the Grad Slam experience is the enthusiasm of an audience of peers, who hold up encouraging signs and banners between the talks. “I could feel that the audience was engaged and could understand what I was saying, and I really appreciated that,” said Inez.
![]() |
Spring 2015 Expo
Best Design Project Team: Shunt Doubles
Team members: Sanjay Sridaran, Yitian Xiao, Shahram Kazemi,
Hoang Nguyen and Inez Raharjo
|
Goergia Tech East Campus, Atlanta USA
From LIBERTAS CONCERT - ANANDA SUKARLAN
Puisi: Hasan Aspahani; Komposisi Musik: Ananda Sukarlan; Piano: Ananda Sukarlan; Sopran: Aning Katamsi; Flute: Elizabeth Ashford; Violin: Inez Raharjo; Kreografer: Chendra Panatan
Penari: Susi Mariah; Siko Setyanto; Hillarian Ananda; Achmad Hilmi, Ayok
Minggu, 3 Januari 2010
Graha Bhakti Budaya - Taman Ismail Marzuki
Batik by www.allurebatik.com
Bibirku Bersujud di Bibirmu adalah musik tari yang didasari oleh puisi Hasan Aspahani. Tak seperti judulnya, puisi ini jauh dari sensual. Puisi ini berkisah tentang cinta dan kehancuran yang diilhami oleh tsunami Aceh 2004, ketika lautan yang membentuk tsunami jatuh menyentuh tanah dan akhirnya meluluhlantakkan bibir pantai utara Sumatera. Bibirku bersujud di Bibirmu ditampilkan pertama kalinya pada JAKARTA NEW YEAR'S CONCERT 2010 sebagai world premiere.
Hasan Aspahani - Bibirku Bersujud di Bibirmu
Wahai, pelayar malam, tiga kapal karam, masam dendam
apa lagi yang kau pendam, sebelum semuanya tenggelam?
Kita pun kehilangan ombak, pasir dan berabad rakaat,
terlelap dalam perangkap, sekejap malam yang cacat.
Tanpa sujud, bagaimana menyebut ini sebuah tahajud.
Aduhai laut yang mengenal semua kapal, kau tahukah?
Pada separuh luruh usia tubuh, ada sepertiga subuh
yang tak pernah hendak menunggu jangkarmu berlabuh.
Dan pada lipatan pantai sajadah yang tak lagi basah
Tajam musimmu makin meranjau: aku kian kemarau
Aku masih sabar menunggu, kau kirim tanda zikir-zikir,
Semakin mendekat gemetar bibir, pada persujudan pasir,
rukuk musafir, sampai mengerti isyarat ombak terakhir.
Kau bertanya: hauskah?
- Aku jawab: ya, beri aku air
Kau bertanya: haruskah?
- Aku minta: atau sebaiknya kau usir
Siapa yang menangis di dermaga? Siapa menghangatkan
laut dengan airmata? Siapa yang melambai di atas palka?
Siapa yang menghentak kaki berlari ke surut samudera?
Siapa mengarak riak jadi mahagelombang maharaksasa?
Aku semakin tak sanggup. Dengar. Dendang itu semakin sayup:
kenapa harus gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
kenapa harus gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
gelombang,
kenapa harus gelombang.
Bibirku bersujud di bibirmu, lalu kita lafazkan zikir pasir.
Bibirku bersujud di bibirmu, hampar mulut yang pesisir.
Bibirku bersujud di bibirmu, pagut sebutir pungut sebutir.
Saturday, October 12, 2013
Ajaran Kepemimpinan - Tontonan dan Tuntunan
Mensyukuri perjalanan 12 tahun berkarya melestarikan seni budaya tradisi, Sekar Budaya Nusantara (SBN) mempersembahkan pergelaran Wayang Orang "PARIKESIT JUMENENG RATU".
Senin, 7 Oktober 2013 pukul 19.30 wib – Selesai
bertempat di Gedung Kesenian Jakarta.
Sutradara : Teguh Kenthus Ampiranto
Koreografer : Nanang Ruswadi
Menampilkan para seniman Wayang Orang terbaik: Ki Manteb Sudarsono, Kirun, Wasi Bantolo, Aris Murtono, Anggono Kusumo, Wahyu Santoso Probowo – Aries Mukadi – Teguh Kenthus Ampiranto – Ali Marsudi – Dewi Sulastri – Agus Prasetya – Nanang Ruswandi - Ariyo Saloko
Ajaran“Kautamaning Prabu” atau keutamaan seorang raja atau pemimpin, diberikan atau diwariskan oleh Pandawa kepada Parikesit dengan tujuan agar proses regenerasi dan suksesi berlangsung alami dan damai.Kautamaning Prabu arti harafiahnya keutamaan seorang Raja berisi beberapa ajaran leluhur mengenai karakter dan sifat-sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang Raja atau Pemimpin.
Pusaka Kautamaning Prabu berisi antara lain:
I. “Berbudi Bawa Leksana”, artinya seorang pemimpin harus iklas berkorban dan selalu melakukan kebaikan untuk rakyatnya serta amanah dan menepati ucapan janjinya.
II. “Memayu Hayuning Bawana”, artinya seorang pemimpin harus selalu mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan dunia.
III. “Jer Basuki Mawa Bea”, artinya seorang pemimpin harus memahami bahwa semua tujuan baik dan cita-cita luhur harus melalui pengorbanan.
IV. “Hasta Brata”, artinya 8 (delapan) perilaku keteladanan dari sifat-sifat alam, Ajaran Sri Rama kepada adiknya Bharata dan Gunawan Wibisana. Ajaran ini juga diberikan oleh Kresna kepada Arjuna, yaitu:
1) “Matahari”, artinya seorang pemimpin harus mampu memberikan cahaya kehidupan, menciptakan kemakmuran dan meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik.
2) “Bulan”, artinya seorang pemimpin harus mempunyai sikap yang teduh dan simpatik serta mampu menciptakan keadaan yang aman tenteram dan damai.
3) “Bintang”, artinya kebijakan dan moral seorang pemimpin adalah tauladan bagi bawahan dan rakyat serta menjadi panutan tempat bertanya.
4) “Langit”, artinya seorang pemimpin harus mempunyai wawasan luas dan cita-cita yang luhur serta mengayomi siapa saja tanpa pandang bulu.
5) “Bumi”, artinya seorang pemimpin harus mampu menampung dan menyerap segala masalah lalu menyelesaikan serta memberi manfaat kepada siapa saja.
6) “Api”, artinya seorang pemimpin harus mampu memberi semangat dan motivasi kepada bawahan dan rakyat serta menegakkan keadilan, hukum dan peraturan tanpa pandang bulu.
7) “Angin”, artinya seorang pemimpin harus berada dimana-mana, tidak berjarak dan menyatu dengan rakyat.
8) “Samudera”, artinya seorang pemimpin harus berjiwa besar, amanah dan berani mengalah namun bukan berarti kalah.
V. “Panca Stiti Dharmaning Prabu”, artinya 5 (lima) sifat dan sikap teladan yang harus dipedomani oleh pemimpin, Ajaran dari Prabu Arjuna Sasrabahu kepada Sumantri yang kemudian di populerkan oleh Ki Hajar Dewantoro dan Sostro Kartono, yaitu:
1) “Ing ngarsa sung tuladha” artinya didepan bawahan atau rakyatnya seorang pemimpin harus memberikan contoh untuk melaksanakan perbuatan baik, memberi semangat pengabdian yang tinggi dan luhur untuk kepentingan negara.
REHEARSAL Sumber: Buku “Kautamaning Prabu” diterbitkan oleh Sekar Budaya Nusantara yang dibagikan pada acara Pergelaran Wayang Orang “Parikesit Jumeneng Ratu” pada tanggal 7 Oktober 2013 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) + Foto Pagelaran dari Mas Doni dapat di klik di sini
read more "Ajaran Kepemimpinan - Tontonan dan Tuntunan"
Senin, 7 Oktober 2013 pukul 19.30 wib – Selesai
bertempat di Gedung Kesenian Jakarta.
Sutradara : Teguh Kenthus Ampiranto
Koreografer : Nanang Ruswadi
Menampilkan para seniman Wayang Orang terbaik: Ki Manteb Sudarsono, Kirun, Wasi Bantolo, Aris Murtono, Anggono Kusumo, Wahyu Santoso Probowo – Aries Mukadi – Teguh Kenthus Ampiranto – Ali Marsudi – Dewi Sulastri – Agus Prasetya – Nanang Ruswandi - Ariyo Saloko
Ajaran“Kautamaning Prabu” atau keutamaan seorang raja atau pemimpin, diberikan atau diwariskan oleh Pandawa kepada Parikesit dengan tujuan agar proses regenerasi dan suksesi berlangsung alami dan damai.Kautamaning Prabu arti harafiahnya keutamaan seorang Raja berisi beberapa ajaran leluhur mengenai karakter dan sifat-sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang Raja atau Pemimpin.
Pusaka Kautamaning Prabu berisi antara lain:
I. “Berbudi Bawa Leksana”, artinya seorang pemimpin harus iklas berkorban dan selalu melakukan kebaikan untuk rakyatnya serta amanah dan menepati ucapan janjinya.
II. “Memayu Hayuning Bawana”, artinya seorang pemimpin harus selalu mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan dunia.
III. “Jer Basuki Mawa Bea”, artinya seorang pemimpin harus memahami bahwa semua tujuan baik dan cita-cita luhur harus melalui pengorbanan.
IV. “Hasta Brata”, artinya 8 (delapan) perilaku keteladanan dari sifat-sifat alam, Ajaran Sri Rama kepada adiknya Bharata dan Gunawan Wibisana. Ajaran ini juga diberikan oleh Kresna kepada Arjuna, yaitu:
1) “Matahari”, artinya seorang pemimpin harus mampu memberikan cahaya kehidupan, menciptakan kemakmuran dan meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik.
2) “Bulan”, artinya seorang pemimpin harus mempunyai sikap yang teduh dan simpatik serta mampu menciptakan keadaan yang aman tenteram dan damai.
3) “Bintang”, artinya kebijakan dan moral seorang pemimpin adalah tauladan bagi bawahan dan rakyat serta menjadi panutan tempat bertanya.
4) “Langit”, artinya seorang pemimpin harus mempunyai wawasan luas dan cita-cita yang luhur serta mengayomi siapa saja tanpa pandang bulu.
5) “Bumi”, artinya seorang pemimpin harus mampu menampung dan menyerap segala masalah lalu menyelesaikan serta memberi manfaat kepada siapa saja.
6) “Api”, artinya seorang pemimpin harus mampu memberi semangat dan motivasi kepada bawahan dan rakyat serta menegakkan keadilan, hukum dan peraturan tanpa pandang bulu.
7) “Angin”, artinya seorang pemimpin harus berada dimana-mana, tidak berjarak dan menyatu dengan rakyat.
8) “Samudera”, artinya seorang pemimpin harus berjiwa besar, amanah dan berani mengalah namun bukan berarti kalah.
1) “Ing ngarsa sung tuladha” artinya didepan bawahan atau rakyatnya seorang pemimpin harus memberikan contoh untuk melaksanakan perbuatan baik, memberi semangat pengabdian yang tinggi dan luhur untuk kepentingan negara.
2) “Ing madya mangun karsa” artinya di tengah-tengah bawahan atau rakyatnya seorang pemimpin harus mampu mengembangkan dan membangkitkan semangat kreatif untuk mencapai kemajuan bersama.
3) “Tut wuri handayani” artinya seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan semangat, memotivasi dan mendukung kreatifitas/ide bawahan atau rakyatnya yang bersifat positif serta melakukan evaluasi atas penyimpangan dari bawahannya.
4) “Perang tanpa bala” artinya seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan diplomasi.
5) “Sakti tanpa aji” artinya seorang pemimpin harus kharismatik, kata-katanya mempunyai daya pesona bagai sabda. Apa yang dikerjakan adalah karya Tuhan sehingga akan selalu mendapat ridhaNya.
VI. “Pancadasa Kotamaning Prabu”, merupakan ajaran kepemimpinan jaman Majapahit yang bersumber pada NegaraKertagama sebagaimana karakter yang di tauladani oleh Patih Gadjah Mada, artinya 15 (lima belas) sifat keutamaan pemimpin, yaitu:
1) “Wijnana” artinya bijaksana dan penuh konsentrasi dalam menyelesaikan masalah.
2) “Mantri wira” artinya pemberani dalam membela negara dan menegakkan kebenaran.
3) “Wicaksaneng naya” artinya bijaksana dalam menggunakan pikirannya dalam memimpin.
4) “Natanggwan” artinya mendapat kepercayaan dari rakyat dan negara.
5) “Satya bhakti aprabhu” artinya selalu setia dan taat pada atasan.
6) “Vakmivak” artinya pandai bicara dan berdiplomasi.
7) “Sarjawa upasama” artinya sabar dan rendah hati.
8) “Dhirotsaha” artinya tekun dan teguh dalam berusaha.
9) “Tan lelana” artinya teguh iman, riang, antusias dan optimis.
10) “Dibya citta” artinya lapang dada dan menghargai pendapat orang lain.
11) “Tan satrsna” artinya tidak terikat kepentingan pribadi.
12) “Masihtasa bhuvana” artinya menyayangi setiap mahluk dan isi alam ini.
13) “Gineng pratidina” artinya setiap hari senantiasa berbuat baik.
14) “Sumantri” artinya menjadi abdi negara dan penasehat yang baik dan patuh.
15) “Amayaken musuh” artinya mampu menghancurkan dan memperdaya musuh-musuh negara.
VII. “Catur Pariksa/Catur Naya Sandhi”, ajaran yang ada dalam Kakawin Ramayana, artinya 4 (empat) sikap yang harus dimiliki pemimpin dalam memimpin bawahan dan rakyatnya yaitu:
1) “Sama” (prinsip kesetaraan) artinya mampu mengendalikan dan adil kepada rakyat terutama kawan dan negara sahabat.
2) “Bheda” (prinsip kebhinekaan) artinya memiliki keahlian mengendalikan berbagai suku bangsa dan agama yang berbeda-beda sehingga mampu memelihara atau mengatur tata tertib dan disiplin dalam mengendalikan pemerintahan.
3) “Dana” (prinsip kesejahteraan) artinya berderma mengusahakan sandang, pangan dan papan untuk memenuhi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
4) “Denda” (prinsip keadilan dalam hukum) artinya menghukum secara adil bagi yang berbuat salah.
Selain ajaran diatas, Parikesit juga meneladani tokoh-tokoh Pandawa dan tokoh generasi sepuh yang sudah berhasil mengukir sejarah dengan tinta emas. Ajaran tersebut adalah Ajaran Candra Jiwa Pandawa dan Tokoh Pewayangan. Mereka adalah pribadi-pribadi tauladan yang karakternya merupakan simbol-simbol jiwa agung, antara lain:
1) “Puntadewa”, yang memiliki sifat ketuhanan, kejujuran, kesederhanaan dan kebersihan jiwa.
2) “Bima”, yang memiliki sifat keberanian, ketegasan, kelugasan dan kepahlawanan.
3) “Arjuna”, yang merupakan simbol ilmu pengetahuan dan budaya, kesempurnaan, keindahan serta ahli perang.
4) “Nakula”, yang merupakan simbol kesejahteraan dan kemakmuran.
5) “Sadewa”, yang merupakan simbol kearifan dan intelektualitas, mempunyai memori yang kuat serta ahli data abadi.
6) “Matswapati”, yang merupakan simbol dari pemimpin yang sangat piawai dalam administrasi negara.
7) “Kresna”, yang memiliki kepekaan intuitif, mempunyai kemampuan “forecasting & problem solving”, ahli strategi dan mampu menyusun program dengan analisis masa depan yang tajam.
8) “Curiganata/Baladewa”, yang merupakan sosok raja perkasa, sakti mandraguna, kekasih dewata yang sportif dan lurus dalam hidupnya.
REHEARSAL Sumber: Buku “Kautamaning Prabu” diterbitkan oleh Sekar Budaya Nusantara yang dibagikan pada acara Pergelaran Wayang Orang “Parikesit Jumeneng Ratu” pada tanggal 7 Oktober 2013 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) + Foto Pagelaran dari Mas Doni dapat di klik di sini
Subscribe to:
Posts (Atom)






































